Lifestyle

Alasan buat Tidak Kalap Santap Makanan di Hari Raya Idul Adha

Sudah menjadi tradisidi tengah masyarakat, khususnya umat Islam, melengkapiperayaan Idul Adha, dengan aneka makanan lezat. Sebagian orang pasti sudah menyiapkan menu masakan yang dihidangkan seusai Salat Id. Namun, hati hati dengan perilaku makan berlebih alias kalap.Sebab jika tidak bisa mengontrol makan, ancaman penyakit serius mengintai. Apa yang menjadi alasannya?

Hidangan hari raya identik dengan masakan tinggi santan dan garam. Apalagi ketika Idul Adha, banyak orang menyiapkan hidangan berbahan dasar daging sapi atau daging kambing. Hindari mengonsumsi menu menu tersebut secara berlebihan, apalagi jika Anda memiliki riwayat kolesterol sebelumnya.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Imelda Goretti menyarankan, beberapa tipe makanan yang harus dihindari agar terhindar dari kolesterol adalah makanan bersantan, makanan digoreng, serta olahan jeroan. "Tapi bukan berarti dalam momen saat ini tidak boleh konsumsi. Jadi tetap boleh dikonsumsi selama tidak berlebihan," kata dr. Imelda dalam webinar bersama RS Eka Hospital Cibubur, belum lama ini. Ia mengingatkan bahwa 30 persen kolesterol dalam darah adalah efek dari apa yang kita makan.

Oleh karena itu, mengonsumsi makanan tinggi kesterol secara terus menerus secara tidak langsung akan memengaruhi kadar kolesterol dalam darah. Jika dibiarkan, kadar kolesterol dalam darah yang tinggi terus menerus dalam jangka waktu lama merupakan faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskular, seperti stroke dan penyakit jantung. Bagaimana membatasinya?

Dr. Imelda mencontohkan, konsumsi hanya satu potong daging rendang bukan tiga atau empat potong serta tidak mengambil bumbunya terlalu banyak. Contoh lainnya adalah membuat santan pada kuah lontong tidak terlalu kental. Jangan lupa pula membatasi porsi makan agar tidak berlebihan. Baca juga: Cegah Kolesterol Tinggi, Kurangi Konsumsi Makanan Berikut

Kementerian Kesehatan menganjurkan konsumsi garam tidak lebih dari 5 gram natrium (1 sendok teh) per hari. Dokter Spesialis Jantung Intervensi dari Rumah Sakit Immanuel Bandung, dr. Edwin Setiabudi, Sp.PD., KKV FINASIM menjelaskan, asupan garam berlebih perlu dibatasi untuk mencegah terjadinya hipertensi atau tekanan darah tinggi. "Jangan hanya mengejar rasa tapi jadinya jumlah garamnya berlebih," ungkapnya beberapa waktu lalu.

Untuk membuat masakan lebih berasa, kita bisa mengurangi penggunaan garam dan memperbanyak bumbu seperti rempah, kaldu jamur, kecap, bawang putih, dan lainnya. Menu makanan spesial di hari raya tentunya memicu kita untuk makan lebih banyak. Hal ini tidak menjadi masalah jika kita hanya melakukannya di hari itu dan kembali menerapkan pola makan sehat di hari hari lainnya.

Namun, jika pola makan berlebih itu terus terbawa seterusnya, waspada lah karena kebiasaan makan berlebih bisa menyebabkan kegemukan atau berat badan berlebih. Sebab, berat badan berlebih yang dibiarkan berkepanjangan juga menjadi faktor risiko sejumlah penyakit serius, seperti penyakit jantung koroner, diabetes tipe 2, dan lainnya. Dr. Edwin memberikan tips sederhana untuk mengetahui apakah berat badan kita masih normal atau sudah masuk kategori berlebih.

Selain menggunakan Indeks Massa Tubuh (BMI), cara lainnya adalah dengan mengukur lingkar pinggang. "Untuk laki laki Asia tidak boleh lebih dari 90 cm, kalau menggunakan celana ukurannya 34. Sementara perempuan tidak boleh lebih dari 80 cm, tentunya dalam keadaan tidak hamil," ungkapnya.

Dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Kamis (10/10/2019), beberapa tips untuk mencegah perilaku makan berlebih antara lain:

About Author

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.

Comment here