Metropolitan

Cerita Marni yang Enggan Menyusahkan Anaknya & Tetap Bertahan di Ibu Kota

Jakarta, yang tetap menjadi tujuan bagi mereka yang memiliki impian, mengubah nasibnya. Ibu Kota yang selalu menjanjikan nasib yang lebih baik dengan segala kesempatan kerjanya. Namun, janji manis itu tidak akan terwujud tanpa keringat. Marni (62) misalnya. Seorang tunanetra penjual kerupuk ikan tenggiri ini, pantang menyerah mencari nafkah walaupun terbatas pengelihatannya. Wanita asli Purworejo ini mengaku, ia kehilangan penglihatannya akibat sakit panas yang ia derita ketika berumur 6 tahun.

"Dulu (pernah) sakit panas gak sembuh sembuh. Tiba tiba (pengelihatan) jadi gelap. Biasanya lari lari bisa, tapi kok bisa nabrak," cerita Marni saat ditemui di Flyover Toll Joglo, Jakarta Barat, Jumat (8/11/2019). Keterbatasannya itu tidak membuatnya kehilangan tekad untuk terus berjuang. Marni memutuskan untuk berangkat ke Jakarta, mencoba menggapai mimpi mimpi yang dikejar para perantau."Saya gak betah aja di kampung, menyusahkan keluarga" aku Marni sambil berteduh dibawah payungnya dari sengatan matahari. Marni pun mulai menjual keahliannya sebagai tukang pijat Jakarta. Namun, karena faktor usia, ia beralih menjadi penjual kerupung ikan tenggiri yang sekarang sudah ditempuh selama 4 tahun.

"Dulu saya tukang pijet, cuma udah capek sekarang, gak mau lagi saya, makanya sekarang jualan kerupuk aja" kata dia. Di masa perantauannya, ia menikah dengan pria asal Yogyakarta pada tahun 1992, menetap di Srengseng, Jakarta Barat dan mempunyai tiga anak. Hanya saja, pernikahannya harus kandas di tahun keenam."Namanya cowok, masih muda, (akhirnya) dia cari (wanita) yang lebih cantik lagi" kata Marni Dari penghasilannya sebagai tukang urut bersama mantan suaminya, Marni berhasil membiayai pendidikan ketiga anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. "Yang paling kecil kuliah di UGM (Universitas Gajah Mada), dibawa bapaknya ke Jogja. Yang lainnnya sudah lulus, sekarang di Purworejo," jelas Marni.

Anak anak Marni pun sempat membawa ibunya pulang ke Purworejo karena tak tega melihatnya berjuang di Ibu kota. Tetapi Marni bersikeras tetap ingin di Jakarta karena tak ingin menyusahkan anak anaknya. "Pernah mereka minta saya tinggal di kampung, cuma saya gak betah. Mau kerja apa apa dilarang, saya juga tidak enak memberatkan mereka," kata Marni. "Saya juga menganggap Jakarta kampung saya sekarang, saya gak mau balik lagi ke (Purworejo) sana" lanjutnya.

Akhirnya, dengan berat hati anak anak Marni tetap membiarkan ibunya bekerja sambil terus menengoknya di Jakarta. Pekerjaan Marni sebagai penjual kerupuk pun dipenuhi suka duka. Terkadang jualannya laris habis, tetapi pernah dagangan kerupuknya itu dicuri. "Pernah ada yang pura pura mau beli kerupuk, terus dia bilang uangnya di mobil, tapi gak balik balik lagi sampai sekarang," kata Marni. Namun, dari kejadian tersebut Marni mengaku tidak dendam dengan orang yang mencuri dagangannya. Marni kemudian bercerita tentang anak anaknya yang sudah berkeluarga. Ia mengaku terharu bisa membiayai mereka hingga jengjang pendidika tinggi. "Cucu sudah tiga. Kalau pulang (ke Purworejo) ketemu" kata Marni semringah.

Ditemani bising lalu lalang kendaraan, ia tetap gigih menjual kerupuknya, walau ia tahu anak anaknya mau dan mampu menampungnya. Tetapi tekad Marni yang masih bisa mandiri, menghalangi keinginan anak anaknya itu.

About Author

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.

Comment here