Metropolitan

Dia Sebenarnya Sangat Butuh Kasih Sayang Psikolog Soroti Tulisan Tangan Siswi SMP yang Bunuh Bocah

Psikolog Klinis Mellisa Grace ikut mengomentari kasus pembunuhan yang dilakukan siswi SMP di Sawah Besar, Jakarta. Menurut Mellissa Grace, berdasarkan salah satu tulisan yang dibuat remaja berinisial NF (15) tahun itu, pelaku sebenarnya sangat membutuhkan kasih saya. Seperti diketahui, NF membunuh anak tetangganya yang berusia 6 tahun berinisial APA dengan cara sadis.

Setelah menghabisi nyawa bocah yang merupakan teman adiknya itu, NF lalu menyimpan jenazahnya di lemarinya semalaman. NF pun melaporkan perbuatannya sendiri ke kantor polisi keesokan harinya. Dilansir dari Youtube Talk Show tvOne Senin (9/3/2020), orangtua korban, Kartono mengatakan kalau anaknya itu memang sering main di rumah pelaku.

"Kalau saya nggak terlalu tahu (pelaku), hanya sepintas saja, tidak tahu pribadinya, anak saya dekat dengan adik tiri pelaku, sering main ke rumah pelaku," kata Kartono melalui sambungan telepon. Kartono pun mengakui kalau dirinya tidak pernah mengobrol dengan pelaku karena cenderung tertutup. "Kalau sama orangtuanya kadang ngobrol," kata dia.

Menurut Mellissa Grace, dalam kasus ini tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan pelaku melakukan tindakan sadis seperti itu. "Perlu kita kembali menelaah bahwa menurut saya tidak ada satu faktor tunggal yang mampu menjadi penjelasan sebuah perilaku, selalu ada dinamika kompleks, terlebih perilaku yang abnormal atau maladaptif," jelasnya. Menurut Mellissa Grace, setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi, yakni faktor individual dan faktor lingkungan.

"Faktor individu yaitu faktor genetik misal orangtuanya punya riwayat memiliki gangguan mental juga, faktor bilogis bawaan, fungsi otak, dan sifat bawaan," kata dia. Kemudian faktor individu itu bisa berkombinasi dengan faktor lingkungan. "Faktor lingkungan yaitu faktor pola asuh, stimulasi yang dia terima di lingkungan, mungkin salah satunya tayangan atau hobi yang dia tonton. Kemudian hubungan dia dengan signifikan others. Kita perlu pertimbangkan banyak sekali aspek seperti itu dan aspek itu tidak bisa dipisahkan satu persatu karena berkaitan satu sama lain," bebernya.

Kemudian Mellissa Grace pun menyorot satu tulisan yang dibuat oleh NF. Salah satu tulisan yang disorot Mellissa Grace yakni I will always love you. Who? Unknown (Saya akan selalu mencintaimu. Siapa? Tidak diketahui). "Jadi saya melihatnya bahwa tulisan ini sebetulnya proyeksi, apa yang dibutuhkan seorang anak dari dalam diriya, 'saya akan terus mencintai kamu, siapa? gak diketahui'. Berarti ini anak sebenarnya dia sangat butuh kasih sayang, itu baru satu tulisan tapi bagaimana tulisan lain," jelas Mellissa Grace.

Ia pun menganalisa bahwa mungkin saja ada kontribusi dari faktor lingkungan yang kemudian saling berinterelasi dengan faktor individual. Lebih lanjut ia juga menjelaskan soal tingkah laku NF yang sering melakukan kekerasan terhadap binantang. "Bahwa di dalam psikologi ketika seseorang di bawah usia 18 tahun memiliki pola tingkah laku yang menetap seperti misal sering menyakiti orang lain atau punya ide untuk itu, sering bertindak kasar terhadap binatang, atau melakukan pencurian, kebohongan, sering merusak barang barang, dalam jangka waktu setidaknya ada 12 bulan secara terus menerus, itu masuk dalam kategori kondak disorder atau gangguan perilaku," jelasnya.

Gangguan perilaku yang dialami anak anak ini, jika dibiarkan maka akan mengarah ke psikopat. "Ketika ini dibiarkan dan mengarah ke usia dewasa, maka ketika perilakunya itu terus menerus terjadi di usia dewasa, maka berubah diagnosanya menjadi gangguan kepribadian anti sosial yang di masyarakat, yang dikenal dengan istilah psikopat, di mana sebenarnya bisa dideteksi dari masa anak anak," tuturnya. Namun ia menegaskan kalau kasus NF ini bukan berarti mengarah ke sana.

"Saya tidak mengatakan kasus ini adalah ini (psikopat), tapi itu adalah gambaran seseorang punya ciri ciri seperti itu maka ada kecenderungan yang mengarah ke sana, makanya perlu pemeriksaan psikologis," tandasnya. Senada dengan Mellisa Grace, Kriminolog Maman Suherman atau yang akrab disapa Maman Suherman resah dengan masa depan NF. "Kalau melihat dari berita, harusnya semangat kerja kita ke depan tetap di bawah payung undang undang 11 12 sistem peradilan pidana anak. Ini semangatnya terhadap pelaku pun bukan balas dendam, tapi rehabilitasi, pembinaan, makanya LP nya pun bukan lembaga permasyarakatan tapi lembaga pembinaan khusus anak," kata dia.

Kemudian ia pun membandingkan kasus NF ini dengan kasus Mary Bell di Inggris pada tahun 1968. "Mary Bell yang umur 11 tahun membunuh anak umur 4 tahun dengan cara mncekik kemudian mengajak temannya memberi gambar dan tulisan bahwa sayalah pembunuhnya di satu tempat, polisi tidak percaya dianggap main main. Akhirnya dia melakukan pembunuhan kedua jauh lebih sadis dengan menggoreskan identitas huruf M di perut korban umur 3 tahun," cerita Kang Maman. Kata Kang Maman, akhirnya terbukti belakangan hari kemudian bahwa Mery Bell punya sikap seperti yang dibilang Mellisa bahwa hubungan dengan orang orang di sekitarnya cukup melukai dia.

"Sehingga di kepalanya cuma 1 desain, supaya tidak menjadi korban saya harus jadi pelaku. Itu yang dia lihat setiap hari, mau lahir pun dia bukan anak yang diharapkan oleh ibunya, umur 4 tahun diperjual belikan oleh ibunya kepada pedofil. Setiap harinya melihat ibunya dicekik, kalau tidak mau dicekik kamu harus mencekik. Jadi ada pengaruh lingkungan, tidak tunggal kasusnya. (Mary Bell) Tidak identik dengan kasus sekarang karena belum lihat kasusnya," klaim Kang Maman. Namun menurut Kang Maman, setiap orang secara teori apa yang kita dengar, kita lihat, kita saksikan, itu pasti mempengaruhi sikap kita di masa depan. "Itu baru satu faktor, belum faktor lain, faktor kejadian di belakang kasus ini yang belum terungkap. Misalnya bagaimana hubungan dia dengan orangtuanya," ungkapnya.

Kemudian, Kang Maman pun merasa resah dengan masa depan NF setelah dirinya menjalani rehabilitasi nanti. "Yang saya pikirkan sekarang adalah ke depannya, undang undang peradilan anak kita, kalau pakai KUHP kan pembunuhan berencana itu mati hukumannya, kalau untuk anak anak 10 tahun. Anak ini kalau maksimal 10 tahun akan keluar umur 25 tahun, apakah pembinaan kita nanti di LP khusus anak itu bisa mengubah dia, atau setidaknya memperbaiki cara pandang dia untuk setidaknyaa tidak anti sosial misalnya, karena kalau tidak ujungnya seperti yang dbilang Mellissa (psikopat)," bebernya.

About Author

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.

Comment here