Bisnis

Hubungan dengan Malaysia Tak Akan Rusak Jika Indonesia Ekspor CPO menuju India

Pengamat Ekonomi INDEF Bhima Yudhistira menilai persaingan antara Indonesia dan Malaysia dalam mengekspor minyak sawit mentah (CPO) tidak akan merusak hubungan baik antara kedua negara. Malaysia kini memang dibayangi 'kerugian', karena adanya kebijakan baru yang diberlakukan pemerintah India yang meminta para importir dan pedagangnya untuk menjauhi minyak sawit Malaysia. Hal ini menyusul kekecewaan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi terhadap kritikan yang dilontarkan PM Malaysia Mahathir Mohamad terhadap Undang undang (UU) baru India terkait kewarganegaraan yang dianggap mendiskriminasi muslim.

Indonesia pun bisa masuk ke pasar India dan mengekspor lebih banyak CPO menggantikan Malaysia. Karena Indonesia merupakan negara pengekspor CPO terbesar di dunia, mengungguli Malaysia. Menurut Bhima, terkait ekspor impor, murni urusan bisnis sehingga ia melihat tidak akan ada ketegangan hubungan dengan Malaysia, jika Indonesia mengekspor lebih banyak CPO ke India.

Persoalan ekspor impor, kata dia, hanya persoalan strategi bisnis saja. Sehingga selama hubungan antara dua negara sahabat ini terjalin baik, maka apa yang dilakukan Indonesia jika mengekspor lebih banyak CPO ke India tentunya akan dianggap sebagai hal yang 'sah sah saja'. "Selama hubungan politik Indonesia Malaysia tidak masalah, ini hanyalah business strategi biasa," kata Bhima.

Sebelumnya, Menteri Industri Primer Malaysia Teresa Kok membantah laporan yang menyatakan bahwa India telah menyerukan boikot terhadap minyak sawit Malaysia. Ia mengatakan hal itu terlihat dari sejumlah diskusi yang menunjukkan pembeli dari India menginginkan Malaysia untuk meningkatkan ekspor minyak sawit mentah dan mengurangi ekspor minyak sawit olahan. "Boikot apa? Mereka hanya ingin kami (Malaysia) mengekspor lebih banyak minyak sawit mentah dan mengurangi ekspor minyak sawit olahan," kata Kok, dikutip dari surat kabar lokal Bernama.

Pernyataan itu secara tegas disampaikan Kok setelah berdialog dengan petani kelapa sawit Selangor di Kuala Lumpur, Malaysia. Para importir kelapa sawit dari India secara efektif menghentikan semua pembelian dari Malaysia, setelah pemerintah secara pribadi memperingatkan mereka untuk menghindari impor Malaysia. Dikutip dari laman Theedgemarkets , Kamis (16/1/2020), peringatan yang dikeluarkan pada pekan lalu itu muncul secara bersamaan seiring langkah India membatasi impor minyak kelapa sawit, setelah PM Malaysia Mahathir Mohamad mengkritisi tindakan India di Kashmir serta Undang undang (UU) barunya terkait Kewarganegaraan.

Saat ini, pembeli India tidak melakukan pembelian minyak sawit mentah atau olahan dari pemasok utama Malaysia, seperti yang disampaikan lima orang sumber industri yang akrab dengan masalah tersebut. "Secara resmi, tidak ada larangan impor minyak kelapa sawit mentah dari Malaysia, tetapi tidak ada yang membelinya karena ini adalah instruksi dari pemerintah," kata seorang sumber dari kilang terkemuka. Ia menambahkan bahwa pembeli India saat ini mengimpor minyak sawit dari Indonesia, meskipun membayar dengan harga premium Malaysia.

India merupakan pembeli minyak kelapa sawit terbesar di dunia, langkah untuk secara efektif memblokir impor dari Malaysia tentu saja dapat menekan harga minyak sawit sekaligus mendorong persediaan minyak sawit di negeri jiran. Malaysia menetapkan patokan global untuk harga minyak sawit, langkah ini juga dapat menguntungkan Indonesia sebagai negara pengekspor CPO terbesar di dunia. "Kami dapat mengimpor CPO dari Malaysia, namun pemerintah telah memperingatkan kami 'jangan mengadu kepada kami (pemerintah) jika pengiriman anda nantinya terhambat'," kata seorang pedagang yang berbasis di Mumbai.

Ia menambahkan bahwa tidak ada satupun pedagang maupun importir yang ingin melihat pengiriman minyak sawitnya terhambat di pelabuhan. Di sisi lain, pemerintah India belum membuat pernyataan publik terkait minyak sawit Malaysia. Kementerian Perdagangan negara itu pun belum memberikan komentar mengacu pada isu ini.

Minyak kelapa sawit menyumbang hampir dua pertiga dari total impor minyak nabati India. India diketahui membeli lebih dari 9 juta ton minyak kelapa sawit setiap tahunnya, terutama dari Indonesia dan Malaysia. Penyuling dan pedagang India telah mengalihkan hampir semua pembelian minyak kelapa sawit ke Indonesia, meskipun harus membayar menggunakan harga premium Malaysia.

Minyak kelapa sawit mentah Malaysia untuk pengiriman Februari tersedia dengan harga USD 800 per ton secara gratis, dibandingkan dengan USD 810 dari Indonesia. "Seperti yang lainnya, kami membayar mahal untuk persediaan dari Indonesia, untuk keuntungan yang kecil. Kami tidak bisa bertaruh," kata seorang penyuling yang berbasis di Kolkata.

About Author

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.

Comment here