Internasional

Trump Teken Perintah Eksekutif Reformasi Kepolisian AS

Setelah berminggu minggu gelombang unjuk rasa sejak kematian George Floyd, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani perintah eksekutif mendorong reformasi di tubuh Kepolisian. Namun Trump tidak membahas kaitan rasisme yang sistemik dengan kebrutalan polisi, isu yang memicu gelombang unjuk rasa di AS. "Mengurangi kejahatan dan menaikkan standar bukan tujuan yang berlawanan," katanya sebelum menandatangani perintah, diapit oleh petugas polisi.

Trump dan Partai Republik di Kongres telah bergegas untuk merespon demonstrasi menentang kebrutalan polisi dan isu rasial yang telah berkecamuk selama berminggu minggu di seluruh wilayah dalam menanggapi kematian Floyd dan warga kulit hitam lainnya. Perintah eksekutif Trump akan membuat database yang menyelidiki petugas polisi yang menggunakan kekuatan berlebihan. Banyak perwira polisi AS terlibat dalam insiden fatal, termasuk Derek Chauvin, di Minneapolis yang telah didakwa dengan kasus pembunuhan dalam kematian Floyd.

Perintah Trump ini juga akan memberikan insentif keuangan bagi departemen kepolisian untuk mengadopsi praktik terbaik dan mendorong lembaga sertifikasi melatih polisi meredam ketegangan tanpa kekerasan. Ketua DPR Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, Nancy Pelosi, mengkritik perintah eksekutif Trump. Karena dinilai tidak menjawab masalah untuk memerangi epidemi ketidakadilan rasial dan kebrutalan polisi yang membunuh ratusan orang kulit hitam. Adek Floyd Serukan Kongres AS untuk Loloskan RUU Reformasi Polisi

Adek dari George Floyd, yang kematiannya memicu gelombang demonstrasi menentang rasisme, menyerukan kepada Kongres AS untuk "menghentikan rasa sakit." Rasa sakit itu akan hilang, ketika Kongres meloloskan RUU reformasi untuk mengurangi kebrutalan polisi. Philonise Floyd hadir secara pribadi dalam sidang Kongres dan menggambarkan kesedihannya menonton video viral kematian George.

Ia menuntut pembuat Undang Undang untuk mengatasi masalah sistemik dalam penegakan hukum. "Saya di sini meminta Anda untuk menghentikannya. Menghentikan rasa sakit. Saya tidak dapat memberitahu jenis rasa sakit yang Anda rasakan, ketika menonton… abang kamu, yang kamu lihat di seluruh seluruh hidupmu, mati matian meminta pada ibunya," katanya. "Dia tidak patut mati, hanya karena 20 dolar AS," katanya, mengacu pada dugaan tindakan dari saudaranya untuk menggunakan uang palsu sebelum penangkapannya.

"Saya bertanya kepada Anda, apakah seorang pria kulit hitam bernilai, 20 dolar AS?" tanya dia. "Ini adalah tahun 2020. Sudah cukup," tegasnya. Dia menggambarkan bagaimana rintihan abangnya meminta bantuan untuk bisa bernafas, ketika lutut seorang polisi kulit putih menekan lehernya, tapi permintaan itu diabaikan.

"Silakan mendengarkan permintaan saya kepada Anda sekarang, permintaan keluarga kami dan seruan yang menggema di jalan di seluruh dunia," kata Floyd, yang mengenakan masker anti virus bergambar abang. "Mungkin dengan berbicara dengan Anda hari ini, saya dapat memastikan bahwa kematiannya tidak akan sia sia." George Floyd, 46, meninggal dalam tahanan polisi di Minneapolis pada 25 Mei, ketika seorang polisi kulit putih menekan lututnya di lehernya selama hampir sembilan menit.

Video yang viral mengenai detik detik kematian FLoyd telah memicu gelombang aksi unjuk rasa di seluruh wilayah AS, bahkan dunia.(AP/Reuters/AFP/Channel News Asia)

About Author

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.

Comment here