Techno

WhatsApp Punya Pesaing Baru, Namanya MeshTalk, Kelebihannya Tak Harus Beli Pulsa

Ada pesaing baru WhatsApp, aplikasi pesan instan MeshTalk yang tak pakai pulsa, WiFi, Bluetooth. Apakah bakal banyak yang beralih dari aplikasi WhatsApp ke MeshTalk? Keunggulannya, tak perlu pakai pulsa, WiFi, Bluetooth.

Revolusi komunikasi via pesan teks semakin banyak berubah. Jika dulu SMS menjadi layanan penting, fungsinya kini digantikan aplikasi layanan pesan instan yang menggunakan jaringan internet sebagai pengganti pulsa. Inovasi lain juga sedang disiapkan vendor smartphone asal China, Oppo.

Mereka memperkenalkan MeshTalk, layanan pesan instan yang tidak membutuhkan pulsa, paket data, WiFi, maupun Bluetooth untuk berkirim pesan. MeshTalk bisa memuat pesan berupa teks, suara, hingga telepon ke sesama ponsel Oppo. Lantas, bagaimana cara mengoneksikan antarpengguna?

MeshTalk merupakan layanan terdesentralisasi dengan menggunakan sistem end to end. Ia menggunakan sinyal yang terbenam di dalam perangkat. Sinyal ini bisa menciptakan area lokal secara ad hoc untuk menghubungkan antarperangkat Oppo hingga jarak tiga kilometer.

Oppo mengklaim layanan ini tidak akan banyak mempengaruhi usia baterai. Bahkan Oppo mengklaim aplikasi MeshTalk tetap bisa berfungsi saat daya ponsel sedang kritis. Menurut Oppo, MeshTalk bisa dimanfaatkan untuk IoT, navigasi dalam ruangan, dan marketing.

Layanan ini belum final, sebagaimana KompasTekno kutip dari Android Authority, Jumat (28/6/2019). Oppo masih akan memperbaiki beberapa hal seperti konsumsi daya dan kekuatan sinyal. Belum diketahui kapan layanan ini akan diluncurkan.

Oppo juga tidak menjabarkan model atau spesifikasi ponsel apa yang bisa digunakan untuk mengakses MeskTalk. Sejatinya, layanan semacam ini bukanlah baru pertama muncul. Tahun 2014 lalu, layanan serupa muncul dengan nama FireChat.

Namun saat itu, layanan tersebut masih bertumpu pada koneksi Bluetooth dan peer to peer WiFi. Tanpa disadari, WhatsApp Rawan Di hack untuk Mata mata Peretas ( hacker) dapat memasang peranti mata mata pada ponsel dan gawai lain dengan memanfaatkan kelemahan pada aplikasi WhatsApp.

WhatsApp, yang dimiliki oleh Facebook, mengatakan peretasan menyasar "sejumlah pengguna tertentu" dan dilancarkan oleh "seorang aktor siber yang canggih". Pembenahan rencananya dirilis pada Jumat (17/5/2019) kemarin. Penyerangan itu, menurut laporan Financial Times, dikembangkan sebuah perusahaan keamanan Israel bernama NSO Group.

Pada Senin (13/5/2019), WhatsApp mendorong 1,5 juta penggunanya untuk memutakhirkan aplikasi sebagai langkah antisipasi. Serangan peretasan itu sendiri baru ditemukan awal bulan ini. Celah apa yang digunakan?

Peretas memanfaatkan panggilan suara WhatsApp untuk menjangkau perangkat ponsel seorang target. Kalaupun panggilan itu tidak direspons, peranti mata mata akan terpasang dan, sebagaimana dilaporkan FT, panggilan suara itu kerap menghilang dari daftar panggilan pada ponsel. WhatsApp mengatakan kepada BBC bahwa tim keamanannya adalah pihak pertama yang mengidentifikasi celah tersebut dan berbagi informasi itu kepada sejumlah kelompok pelindung HAM, beberapa perusahaan keamanan tertentu, dan Departemen Kehakiman AS awal bulan ini.

"Serangan itu punya ciri khas sebuah perusahaan swasta yang dilaporkan bekerja sama dengan pemerintah untuk menyampaikan peranti mata mata yang mengambil alih fungsi fungsi sistem operasi telepon seluler," sebut WhatsApp dalam catatan untuk para wartawan. NSO Group adalah sebuah perusahaan Israel yang di masa lalu dirujuk sebagai "penjual senjata siber". Perangkat lunak buatan mereka, Pegasus, punya kemampuan mengumpulkan data sensitif dari gawai milik orang yang menjadi target, termasuk menangkap data melalui mikrofon dan kamera serta mengumpulkan data lokasi.

Dalam pernyataan resmi, perusahaan itu menyebut: "Teknologi NSO diberi lisensi oleh badan pemerintah yang berwenang untuk tujuan memerangi kejahatan dan teror. "Perusahaan tidak mengoperasikan sistem itu, dan setelah melalui proses lisensi dan seleksi ketat, aparat hukum dan intelijen menentukan bagaimana menggunakan teknologi ini guna mendukubg misi misi keselamatan publik. Kami menyelidiki setiap tuduhan kredibel mengenai penyalahgunaan dan jika diperlukan, kami mengambil tindakan, termasuk mematikan sistem. "NSO tidak boleh terlibat dalam pengoperasian atau identifikasi target yang dilakukan teknologinya, yang dioperasikan oleh badan penegakan hukum dan intelijen. NSO tidak bisa dan tidak ingin menggunakan teknologinya secara sepihak untuk menyasar orang atau organisasi manapun."

WhatsApp mengatakan terlalu dini untuk mengetahui berapa banyak pengguna yang terdampak oleh celah dalam aplikasi tersebut. Meski demikian, perusahaan itu menambahkan, pihak pihak yang diduga terpapar serangan merupakan pihak yang sangat penting. Amnesty International, yang menyatakan telah menjadi sasaran peranti ciptaan NSO Group pada masa lalu, mengatakan serangan itu adalah salah satu yang dikhawatirkan bakal terwujud.

"Mereka bisa menginfeksi telepon Anda tanpa Anda melakukan tindakan apapun," kata Danna Ingleton, wakil direktur program untuk Amnesty Tech. Menurutnya, ada banyak bukti bahwa peranti itu dipakai rezim rezim untuk mengawasi aktivis dan jurnalis ternama. "Harus ada pertanggungjawaban untuk hal ini. Industri ini tidak bisa terus berlanjut dengan kerahasiaan dan seperti Wild West."

Pada Selasa (14/5/2019), pengadilan di Tel Aviv akan mendengarkan petisi Amnesty International yang menyeru kepada menteri pertahanan Israel untuk mencabut lisensi NSO Group untuk mengekspor produk produknya.(kompas.com/bbc news indonesia)

About Author

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.

Comment here